Dari judulnya saja sudah membuat penasaran ya
yah mungkin bagi sebagian orang tulisanku ini menarik untuk dibaca, tapi untuk sebagian yang lain mungkin sama sekali tidak menarik hmmm… kamu tidak akan tau kalo belum membacanya
THE ORIGIN…
Kisah ini dimulai saat untuk pertama kalinya aku “serius” untuk mencintai
, Tidak jauh2x aku jatuh cinta dengan teman kuliahku she was taller than me smarter than me… lho kok malah seperti liriknya justin bibir
, pendek kata dia adalah seorang wanita yang spesial dimataku (
ini adalah penggambaranyang paling diplomatis
) Seiring dengan berjalannya waktu rasa sukaku mulai tumbuh subur seperti jamur yang menjamur di musim hujan yang lembab
tidak terasa sudah 3 semster sedikit demi sedikit aku memupuk rasa ini, dan aku rasa aku sudah siap untuk memasuki “tahap” selanjutnya yah kurang lebih begitulah pikiranku
, dengan berbagai pertimbangan aku mulai merencanakan bagaimana caranya untuk membangun jembatan untuk menyampaikan perasaaaku ini padanya (atau istilah kasarnya “nembak”
)
Setelah berkutat tidak karuan mencari strategi yang tepat akhirnya aku putuskan untuk “rush” saja karena aku sendiri yakin dia nggak akan membalas perasaanku ini T_T, dan akupun dapat melihat hal tersebut dengan SANGAT jelas, tapi tujuanku hanyalah menyampaikan perasaanku ini padanya tanpa mengharap imbalan apapun, yang penting dia tahu, dan aku bisa lega dan meneruskan hidupku (:D
sok bijak mode ON)
Hari itu berlalu seperti biasa, aku tidak menyangka akan terjadi “sesuatu” ti ti tit ti Hpku berbunyi (waktu itu hapeku masih HP jadul Nokia 3210
) ternyata aku mendapat sms dari teman baikku ternyata isinya adalah sebuah kabar gembira, akhirnya temanku berhasil mendapakan seorang pacar “bagus dong pikirku
” Tetapi seperti tidak percaya aku mebaca lagi SMS itu untuk kedua kalinya ternyata wanita yang dimaksud menjadi pacarnya adalah wanita yang selama ini selalu mengisi hatiku… rasanya ingin kubanting HPku tapi sayang aku cuman punya satu HP lagian HP itu bukan aku yang beli, dengan berat hati aku beri ucapan selamat kepada temanku tadi dan juga ucapan selamat kepada “dia” wanita yang ada di hatiku “selamat ya akhirnya kamu tidak sendiri lagi” ya kira2x begitulah isi SMSku, HP segera aku taruh di meja dan aku langsung tidur.
Aku tak bisa berkata apa… bingung kesal campur menyesal kenapa tidak aku ungkapkan perasaanku sejak dulu, setahun yang lalu… Aku terjebak ditengah2x perasaaku sendiri sejak saat itu aku mencoba menjauhkan diri dari mereka berdua, aku sama sekali tidak ingin mendengar cerita tentang mereka, aku tidak mau mendengar cerita temanku saat mereka nonton film bersama di hari minggu, saat mereka makan diluar “Its so irritating, i really want to say Shut the F*** up” but he’s my friend i just can’t throw those harsh word to him *sigh. Aku cuman bisa tersenyum saat teman baikku menceritakan kegiatannya dengan pacarnya it’s my fake smile…
“If she happy then i have no reason to cry”
MY HEART IS…
Entah beberapa bulan kemudian terjadi gampa besar di Yogyakarta, saat gempa itu terjadi aku sedang berada di kos teman baikku tadi. sehari sebelumnya aku mengikuti sebuah kunjungan study ke Semarang, kebetulan aku satu bus dengan “dia” wanita yang telah mengisi hatiku… Meskipun aku sudah berusaha menjauh tapi seperti gravitasi sepertinya dia selalu menarikku untuk mendekat atau kakiku sendiri yang secara naluriah berusaha mendekat kepadanya, hari itu seharian aku memang tidak memiliki banyak kesempatan untuk menatap wajahnya lama2X akan tetapi seharian itu aku selalu berjalan di belakangnya, menatap punggungnya, sambil berpikir mungkin cuma sedekat ini aku bisa mendekat karena sudah ada orang lain yang berjalan di “samping”nya, sampai sekarang aku masih menggangap hari itu sebagai salah satu hari terbaik dalam hidupku karena aku bisa puas menatapnya seharian
. Hari berikutnya terjadilah gempa besar di Yogyakarta.
Nokia 3210… aku sangat menyukai HPku ini karena HPku tersebut adalah saksi betapa aku kebingungan karena tidak bisa mangetahui kabar “dia” wanita yang mengisi hatiku, pagi itu saat gempa terjadi Batere HPku sudah drop tidak dapat nyala lagi sesampainya di rumah lagi dan mengetahui kalau keluarga di rumah baik2x saja satu2x yang ada di kepalaku adalah “bagaimana keadaanya?”, “bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadanya?” saat itu aku seperti orang kebingungan karena HPku mati aku tidak dapat menghubungi “dia” dan memastikan keadaannya. setelah mendengarkan berita di radio yang mengabarkan betapa parahnya bencana tersebut aku semakin khawatir dengan keadaan “dia”. sebagai usaha terakhir akhirnya aku menjemur batere HPku selama kurang lebih setengah jam kemudian aku pasang lagi dan coba aku hidupkan HPnya dan ternyata bisa hidup!!!!! aku langsung SMS “dia” menanyakan keadannya, lima menit kemudian “dia” membalas SMS ku “dia” dan kelurganya baik2x saja. saat itu juga aku merasa amat suaaaaaaaaangat lega….. dan aku sudah tidak peduli lagi dengan gempa susulan yang masih terasa “yang penting di baik2x saja” begitu pikirku
“.
THE HYPOCRITE…
Beberapa bulan kemudian “dia” mengajakku menjadi sukarelawan sebagai follow up dari bencana gempa yang terjadi di Yogyakarta, aku tidak bisa membohongi perasaanku pada waktu itu aku sangat senang karena aku akan dapat bertemu dengan “dia” setiap hari
. semua berjalan seperti biasa aku kembali mengalami hari2x terbaik dalam hidupku saat dimana aku bisa menghabiskan waktu bersama “dia”, meskipun aku sendiri sadar bahwa “dia” telah memiliki pacar yaitu teman baikku sendiri, aku sudah tidak dapat membendung perasaanku ini, aku memantapkan hatiku “apapun yang terjadi aku akan mengungkapkan perasaanku ini padanya, aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan teman baikku yang penting aku dapat mengangkat beban berat yang ada di dadaku ini aku akan memberitahu dia perasaanku” begitulah pikirku saat itu. pada hari H aku mau ngomong ke “dia” ternyata dia sakit
terpaksa aku harus menunda “misi suci” ku. Hari berikutnya… datang lagi sebuah SMS dari teman baikku.
“Aku putus dengan dia” kurang lebih begitu isi SMS dari temanku baikku APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!! reaksi pertamaku adalah bingung. aku tidak tahu harus bagaimana apakah aku harus senang karena akhirnya aku punya kesempatan atau aku harus ikut sedih karena saat tersebut temanku sedang sepertinya cukup sedih. Satu hal yang pasti aku akhirnya mengurungkan niatku untuk mengungkapkan perasaanku kepada “dia” (LAGI) sekali lagi aku gagal membangun jembatan untuk menyampaikan perasaanku kepada “dia”…
Aku tidak tahu apa yang terjadi kepada mereka atau apa yan menyebabkan mereka putus, dan aku juga tidak tertarik untuk mengetahuinya. Hari berikutnya aku masih bekerja menjadi sukarelawan bersama “dia” seperti hari2x biasanya seakan2x tidak terjadi apa2x, dan aku juga tidak tertarik ntuk membicarakan topik itu dengan “dia”. Siang itu “dia” mendapat telepon dari teman baikku dan karena telepon tersebut sepertinya “dia” menjadi sedikit “gusar”beberapa menit kemudian giliran teman baikku meneleponku, dia bertanya berbagai hal mengenai “mantan”nya tersebut.
Hari itu “dia” selalu terlihat gusar terutama setelah mendapat telepon dari teman baikku tadi, spontan saja aku mencoba bercanda dengannya, tapi dia malah marah kepadaku. Aku sendiri tidak mengerti dia sedang sedih, marah, atau kesal, mungkin aku sudah keterlaluan karena menjadikan kondisinya saat itu menjadi bahan becandaan. Sepertinya “dia” menjadi sedikit kesal jika aku menyebut soal teman baikku tadi atau “mantan” pacaranya. Sejak saat itu aku tak pernah membicarakan lagi tentang teman baikku tadi di depan “dia” bahkan sampai sekarang pun aku tidak akan membicarakan tentang teman baikku tadi kalau dia tidak bertanya.
Entah kenapa sejak saat itu sepertinya “dia” menjaga jarak dariku, munkin itu cuman perasaanku saja tetapi tetap saja aku merasa dia menjaga jarak dariku, jika dia hanya berdua bersamaku suasananya menjadi sangat “kaku” sepertinya aku terkena getah dari putusnya hubugan mereka, padahal aku sendiri tidak tahu apa2x, aku merasa “dia” semakin jauh saja… Rencanaku untuk meberitahukan perasannku kepada “dia” gagal total akhirnya aku tunda lagi hingga waktu yang belum ditentukan… sepertinya aku harus terus merasakan beban penderitaan karena perasaan cintaku sendiri
.
Beberapa hari kemudian teman baikku tadi datang kerumahku sepertinya dia cukup tertekan dengan putusnya hubungannya dengan “dia”, hari itu dia menginap di tempatku, dan seperti yang aku duga akhirnya aku jadi tempat curhat masalahnya dengan “mantan” pacaranya . AAAARRRRRRGGGGGHHHHHHHHHHHHHHHHH why me!!!!!!!!! tapi aku tidak punya pilihan lain selain mendengar, semalaman itu aku harus mendengarkan kisah pacaran temenku tadi dengan orang yang selama ini aku sukai, Rasanya seperti terror yang tidak berakhir tapi aku tidak punya pilihan lain… ketika dimintai saran aku selalu memberikan pendapat yang diplomatis dan tidak memihak, Entahlah aku sendiri jadi bingung apakah aku harus senang karena akhirnya “dia” single lagi atau harus ikut sedih karena temanku baru aja putus.
Namun pada akhirnya ada satu hal yang jelas bahwa akhirnya aku yang tergencet di tengah dan aku harus mengorbankan perasaanku sendiri, “dia” adalah “mantan” pacar teman baikku apakah pantas aku tiba2x ngomong ke “dia” kalau aku menyukainya… apakah itu pantas… dilain pihak “dia” seakan2x berusaha menjaga jarak dariku karena aku adalah teman baik “mantan” pacarnya. i always feels that she treat me as a spy from her ex *sigh.
Pada suatu hari aku main ke kos teman baikku tadi di sana teman2x ku yang lain juga ada di situ. Tiba-tiba muncul pembicaraan mengenai temanku dan mantan pacarnya atau “dia” karena teman2x ku tadi beda jurusan maka mereka tidak terlalu mengeal “dia”, mereka kemudian bertanya kepadaku, seperti apa sih dia kok (teman baikku) bisa sampai segitunya hanya karena mereka putus ?? is she that pretty ?? aku berpikir sejenak berusaha menjawab pertanyaan ini ” “dia” adalah hal yang memberiku tujuan baru untuk terus berjalan, “dia” adalah wanita spesial yang mengisi rongga2x dihatiku yang sudah mulai keropos dimakan kesepian, shes my finish line” kira2x itulah yang ada dalam hatiku tapi yang terucap dari mulutku “”dia” biasa saja”… saat itu juga aku merasa menjadi seorang penhianat karena mengatakan bahwa “dia” “biasa” aku telah menghianati hatiku sendiri aku pun mulai merasa diriku sangat2x kecil. “Jika aku tidak bisa “membela” “dia” apakah aku pantas aku berada di sisinya, hal itu terus menggangu pikiranku… aku merasa aku sama sekali tidak pantas untuk “dia”…
Bersambung ntar aku tulis lagi kelanjutannya

















Recent Comments