“Dingin……”
Perlahan tapi pasti hujan gerimis terus turun, sejenak aku menengok jam dinding sekilas aku dapat melihat waktu menunjukkan jam 1 pagi…. sudah 4 jam gerimis ini menghiasi malam. Mataku kini adalah musuhku, entah kenapa meskipun aku sudah berusaha untuk memejamkan mataku tetap saja kelopak mataku sulit untuk terlelap.
“Atau mungkin karena tadi siang aku sudah minum dua gelas kopi…”
Kepalaku yang lelah mencoba mengurai benang kusut yang terus-menerus menyelimuti pikiranku. Tak lebih dari dua puluh menit aku sudah memejamkan mataku tetapi tetap saja tanpa hasil, aku tak berhasil mengelabuhi pikiranku. sekilas aku bisa melihat lampu jalan yang ada di depan rumahku cahayanya yang menyilaukan perlahan menyeruak menerobos tirai jendela kamarku yang sedikit tersingkap, mengirimkan cahaya redup di ruanganku yang gelap.
“Apakah aku akan terus seperti ini?….. seperti ruangan ini terus berada di kegelapan… “
Untuk sesaat aku merasa cahaya lampu yang menerobos kedalam kamarku bagaikan sebuah udara segar sebuah keindahan yang tak tertahankan. Cahanya putih berpendar dari sebuah neon ukuran besar yang terpasang kokoh pada sebuah tiang listrik. Bagaikan seekor ngengat mataku terus terbang menuju cahaya… hingga akhirnya terhenti ketika cahaya tersebut tidaklah indah lagi akan tetapi lebih tepat disebut sebagai siksaan.
Nafasku mulai melambat sesat setelah pikiranku mulai mengembara, menjelajahi ruang- yang besar yang berada di dalam kepalaku, membuka kembali peti-peti berisi kenangan dan harapan…………..
to be continue to next post
0 Responses to “Colosal Breakdown”